A. KINERJA
1. Arti Kinerja
Di berbagai mass-media istilah kinerja
telah populer digunakan, namun seyogyanya definisi atau pengertian
kinerja belum dicantumkan dalam Kamus Bahasa Indonesia, sehingga
menyulitkan anggota masyarakat yang ingin mengetahuinya. Namun demikian,
media mssa Indonesia memberi padanan kata dalam bahasa Inggris untuk
istilah kinerja tersebut, yaitu “performance” . Apakah
arti performance tersebut ?. Menurut The Scribner – Bantam English
Dictionary, terbitan Amerika Serikat dan Canada th. 1979, terdapat
keterangan sebagai berikut : berasal dari akar kata “to perform” yang
mempunyai beberapa pengertian berikut :
1) To do or carry out, execute = melakukan, menjalankan, melaksanakan;
2) To discharge or fulfill, as a vow = memenuhi atau menjalankan kewajiban suatu nazar;
3) To portray, as a character in a play = menggambarkan suatu karakter dalam suatu permainan;
4) To render by the voice or a musical instrument = menggambarkannya dengan suatu alat musik;
5) To execute or complete an undertaking = melaksanakan atau menyempurnakan tanggung jawab;
6) To act a part in a play = melakukan suatu kegiatan dalam suatu permainan;
7) To perform music = memainkan musik;
8) To do what is expected of person or machine = melakukan sesuatu yang diharapkan oleh seseorang atau mesin.
Dalam hubungan dengan topik ini, maka
pengertian yang paling cocok dan tepat adalah nomor : 1), 2), 5) dan 8),
yaitu melakukan suatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan
tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka arti kinerja atau performance
adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok
orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab
masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi bersangkutan
secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun
etika.
2. Kinerja Individu dan Kinerja Organisasi (Individual and Organization Performance)
Suatu lembaga, baik lembaga pemerintah
maupun lembaga yang dinamakan perusahaan atau yayasan dalam mencapai
tujuan yang ditetapkan harus melalui sarana dalam bentuk organisasi yang
digerakkan oleh sekelompok orang yang berperan aktif sebagai pelaku
dalam upaya mencapai tujuan lembaga atau organisasi yang bersangkutan.
Tercapainya
tujuan lembaga atau perusahaan hanya dimungkinkan karena upaya para
pelaku yang terdapat pada organisasi lembaga atau perusahaan tersebut.
Dalam hal ini sebenarnya terdapat hubungan yang erat antara kinerja perorangan (individual performance) dengan kinerja lembaga (institutional performance) atau kinerja perusahaan (corporate Performance).
Dengan perkataan lain bila kinerja karyawan baik maka kemungkinan besar
kinerja perusahaan juga baik. Kinerja seorang karyawan akan baik bila
dia mempunyai keahlian (skill) yang tinggi, bersedia bekerja karena digaji atau diberi upah sesuai dengan perjanjian, mempunyai harapan (expectation) masa depan lebih baik.
Mengenai
gaji dan adanya harapan merupakan hal yang menciptakan motivasi seorang
karyawan bersedia melaksanakan kegiatan kerja dengan kinerja yang baik.
Bila sekelompok karyawan dan atasannya mempunyai kinerja yang baik,
maka akan berdampak pada kinerja perusahaan yang baik juga.
Sehubungan
dengan itu, di bawah ini akan dijelaskan tentang adanya hubungan antara
upaya melaksanakan tugas, motivasi, harapan dan kinerja. Penjelasan
tentang hal itu dikenal sebagai teori-motivasi (motivation theory).
B. TEORI MOTIVASI
1. Teori Harapan (Expectancy Theory)
Salah satu teori yang membahas tentang
motivasi dewasa ini adalah Teori Harapan yang membahas adanya hubungan
antara upaya melaksanakan kerja (job effort) dengan kinerja dan hasil kinerja (performance outcomes). Pada hal kerangka pemikiran tentang harapan berkaitan erat dengan unsur-unsur pokok dari kebutuhan dan proses pendekatannya.
Dalam
hal ini Victor Vroom (1994) yang pertama kali mengemukakan teori
harapan secara konseptual dengan mengajukan persamaan sebagai berikut :
Motivasi = Harapan x Valensi x Instrumen (Waditra) atau
M = H x V x I
Namun perumusan ini telah dikembangkan menjadi :
Motivasi = Upaya Kinerja x Penjumlahan dari (Hasil Kinerja) (Valensi)
Atau dalam bentuk rumus menjadi :
V = Valensi
Untuk menjelaskan hubungan antara motivasi dengan harapan, valensi dan instrumen, di bawah ini penjelasannya.
Tabel 1.1
Diagram Hubungan Harapan-Instrumentasi-Valensi
(Unsur-unsur Teori Harapan yang Mempengaruhi Motivasi)
Harapan
|
Instrumen
|
Valensi
|
Kemungkinan melakukan tugas untuk mencapai target kinerja
|
Kemungkinan mencapai target kinerja yang dipandu berbagai program kerja
|
Nilai hasil kerja karyawan baik atau buruk
|
Sumber : John R. Schermerhorn, Jr., Management for Productivity, 3rd., New York; John Wiley & Sons, 1989.
Keterangan :
Valensi ialah nilai ketertarikan dirinya terhadap pekerjaan yang harus diselesaikan
2. Hubungan Teori Harapan dengan Kinerja
Untuk menjelaskan hubungan antara unsur
Teori Harapan (Harapan, Instrumen dan Valensi) Robert E. Quinn
selanjutnya menjelaskan sepeti berikut : bahwa hubungan fundamental dari
ketiga unsur-unsur teori harapan dengan persamaan yang baru sebenarnya
sama. Bedanya teori yang terakhir telah dikembangkan dengan
mempertimbangkan beberapa hasil usaha.
Simaklah
secara hati-hati contoh di bawah ini : Annie adalah seorang pimpinan
proyek dari sekelompok programmer dan sistem analis yang sedang diberi
tugas untuk menciptakan suatu sistem informasi manajemen (SIM) baru dari
suatu perusahaan yang mempunyai banyak devisi (bagian). Annie merasa
agak putus asa, karena kemajuan pekerjaan ini sangat lambat. Oleh karena
itu, dia sedang mempertimbangkan untuk bekerja pada hari libur di akhir
minggu yang akan datang.
Apakah
hubungannya dengan teori harapan yang sedang kita bicarakan ?. Dalam hal
ini, mari kita nalisis rencana Annie untuk melanjutkan pekerjaan pada
hari libur akhir minggu mendatang. Mulailah kita amati hubungan tersebut
dari sejak awal, yakni upaya (effort) untuk memperoleh kinerja (hasil
kerja), lalu harapan (expectancy) untuk dapat menyelesaikan SIM yang
baru tersebut dengan lebih cepat. Dalam hal ini Annie dapat
memperkirakan secara seksama dengan menggunakan kemungkinan-kemungkinan
(probability). Ukurannya adalah dengan menggunakan angka 0 (nol) sampai
dengan 1 (satu), atau dari 0 % sdampai dengan 100 %.
Atau
dapat juga si Annie memberi angka kemungkinan tersebut 85 % atau 95 %
atau 100 % berdasarkan keyakinannya. Mungkin dalam hatinya si Annie
mengharapkan prestasi dengan imbalan tertentu, misalnya promosi jabatan.
Setelah
itu, si Annie menentukan besarnya valensi yakni nilai ketertarikan
dirinya terhadap pekerjaan yang harus diselesaikan. Bagaimana Annie
memberi nilai skoring untuk valensi ketertaqrikan tersebut ?. Dapat saja
menggunakan angka sebagai berikut : -1, …. 0, ….., +1. Maknanya, nilai
+1 sangat tertarik, sedangkan –1 adalah sangat tidak tertarik.
Si
Annie dengan semikian dapat menggunakan rumus persamaan harapan dengan
multi-hasil, dengan cara menimbang, menyeimbangkan bahkan dapat
melakukan pertukaran dari berbagai hasil dan valensinya.
Seyogyanya
terdapat keterkaitan yang erat antara motivasi seseorang melakukan
suatu kegiatan dengan kinerja yang diperolehnya. Bila motivasinya rendah
jangan berharap hasil kerjanya (kinerjanya) baik. Dan motivasi
dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan pribadi seperti rasa tertarik
atau memperoleh harapan. Dalam contoh di atas, si Annie mengharapkan
untuk memperoleh promosi jabatan atau kenaikan pangkat.
Selanjutnya
dapat dipahami bahwa kinerja kaeyawan sangat mempengaruhi kinerja
organisasi di mana di atau mereka berperan sebagai pelaku. Sehubungan
dengan itu, kiranya seorang manajer (pimpinan) selalu melakukan hal-hal
seperti berikut :
1) Tentukan tujuan organisasi secara jelas dan tentukan pula kreteria kinerjanya;
2) Pimpinan
perusahaan (instansi) selalu menyediakan insentif (pendorong kerja)
yang menarik, baik berupa penghargaan dalam bentuk uang maupun
penghargaan lain, agar para karyawan (terutama bawahan) bersedia
mencapai tujuan organisasi melalui upaya mencapai kinerja sesuai dengan
kreteria yang telah ditetapkan.
3) Pimpinan
perusahaan (instansi) secara teratur menjelaskan tentang umpan balik
tujuan perusahaan (instansi), sehingga setiap karyawan mengetahui posisi
peranannya dalam perusahaan (instansi);
4) Gunakan
cara manajemen partisipatif di mana para karyawan diikutsertakan dalam
pengambilan keputusan tertentu di mana mereka dapat melakukan pekerjaan
dengan baik;
5) Pertemuan
atau berunding dengan karyawan bawahan dilakukan berdasarkan komonikasi
dua arah. Dalam hal ini kedua pihak harus menjadi pendengar yang baik
didasari niat yang baik demi peningkatan kinerja perusahaan (instansi);
6) Secara
khusus memberikan orientasi pengenalan ruang lingkup kerja kepada
karyawan baru tentang pekerjaan atau tugas yang diinginkan oleh
perusahaan (instansi). Hal ini dipertlukan agar karyawan baru dapat
cepat menguasai tugasnya sesuai degan kebutuhan instansi (perusahaan).
11:46 PM
Iwan Firdaus


