A. Metode Penilaian Kinerja Karyawan
Secara umum terdapat 2 (dua) teknik cara menilai
kinerja yang bisa digunakan yaitu :
1. Penilaian kinerja pada seseorang
secara tumggal;
2. Penilaian kinerja pada sekelompok
orang.
Penilian kinerja atas seseorang secara tunggal
adalah semata-mata menilai kinerja orang perorangan secara individual
tanpa membandingkannya dengan yang lain.
Penilaian kinerja atas kelompok adalah
penilaian kinerja atas seseorang dibandingkan dengan kinerja karyawan
lain.
Ada benerapa teknik atau cara penilaian kinerja
karyawan tunggal (individual) yaitu :
1. Grafik skala kecepatan (Graphic rating
scale);
2. Memilih kecepatan yang dipaksakan (
Forced choice rating);
3. Cara penilaian dengan esay (Essay
appraisal techniques);
4. Daftar pengecekan kinerja (Performance
checklist);
5. Teknik kejadian Kritis
(Critical incident technique).
1. Grafik Skala
Kecepatan (GSK/Grafic Rating Scale)
Cara untuk mengukur berbagai jenis karakteristik yang
mempengaruhi kinerja karyawan, misalnya :
a. Kecepatan waktu pengerjaan
dengan teliti (punctuality);
b. Sikap (attitude);
c. Inisiatif (initiative).
Skala penilaian dengan ukuran :
a. Rendah; menengah
tinggi atau;
b. Kinerja lain yang
diukur dapat pula dengan macam ukuran baik atau jelek; atau
c. Untuk hal-hal
lain diukur dengan skala 1 sampai dengan 10.
2. Memilih Kecepatan
yang Dipaksakan (MKD/Forced Rating Choice)
Teknik penilaian “Memilih Kecepatan yang
Dipaksakan (MKD)” adalah dengan menyajikan beberapa pilihan
nilai untuk suatu kategori kinerja seorang karyawan.
Penekanan dari sistem “Memilih Kecepatan yang
Dipaksakan” dalam menilai kinerja seorang karyawan, cenderung
untuk memilih nilai yang lebih rendah, dibandingkan dengan sistem
penilaian berdasarkan grafik.
3. Teknik Penilaian
dengan Esay (TPE/Essay Evaluation Technique)
Teknik penilaian kinerja dengan esay adalah
teknik penilaian kinerja dengan memberikan penjelasan secara tertulis
tentang hal yang dinilai.
Misalnya : kecepatan mengetik dari karyawan “A”
adalah 80 ketuk per menit, karena dia dapat mengetik dengan prinsip
10 jari. Di samping itu papan ketik yang digunakan masih baru, lebih
canggih dan lain-lain.
4. Daftar Pengecekan
(DP/Checklist)
Daftar pengecekan adalah metode penilaian
kinerja, dimana penilai sambil membawa daftar penilaian tersebut
memilih salah satu pernyataan yang menurut logika dan perasaan dia,
sesuai dengan kinerja karyawan yang sedang dinilai.
Contoh dari daftar pengecekan, misalnya keramahan
seorang petugas “customer service” dari suatu bank akan dinilai.
Bentuk pernyataannya adalah sebagai berikkut :
Keramahan dalam melayani langgana atau konsumen
adalah :
a. ( ) sangat ramah;
b. ( ) ramah;
c. ( ) cukup ramah;
d. ( ) tidak ramah.
5. Teknik Kejadian
Kritis (TKK/Critical Incident Technique)
Penilaian kinerja dengan “Teknik Kejadian
Kritis” adalah teknik penilaian kinerja karyawan dengan
menggunakan daftar pernyataan yang menggambarkan tipe perilaku setiap
karyawan yang efektif atau tidak.
B. Kebijakan Lanjutan Dalam Pelaksanaan Penilaian Kinerja Karyawan
1. Syarat-syarat Pelaksanaan Penilaian Kinerja Karyawan
Setelah memilih salah satu cara atau teknik penilaian kinerja karyawan, pihak pimpinan suatu organisasi perlu mempertimbangkan :
a. Penilaian kinerja karyawan harus dibangun secara hati-hati, obyektif dan jujur serta tulus hati;
b. Pada
saat penilaian kinerja karyawan jangan sampai masing-masing karyawan
maupun penilai kinerja menjadi takut. Ciptakanlah suasana teduh dan
tenang, artinya karyawan harus merasa senang bahwa hasil pekerjaannya
dinilai dengan harapan memperbaiki kelemahan;
c. Bila
diadakan diskusi tentang hasil penilaian kinerja karyawan, maka
lakukanlah diskusi tersebut secara pribadi, tidak didepan umum.
Sebaiknya hanya 2 orang yaitu penilai dengan karyawan yang dinilai;
d. Lamanya
diskusi tentang hasil penilaian kinerja sebaiknya kurang dari 30 menit.
Lebih lama dari waktu tersebut, biasanya karena komunikasi yang jelak
antara penilai dengan karyawan yang dinilai;
e. Dalam
hal kinerja karyawan jelak, seorang penilai kinerja harus memberikan
penilaian yang jelas secara tertulis faktor-faktor yang mempengaruhi,
tanpa menuntut pada karyawan yang dinilainya. Bila seorang penilai tidak
mampu mencari faktor penyebabnya dia dapat meminta bantuan kepada
petugas kepegawaian;
f. Hari
sidang untuk penilaian kinerja dicari waktu atau saat yang baik.
Lampiran tambahan dari formulir penilaian kinerja diperlukan untuk
menerangkan lebih jelas tentang berbagai hal yang berkaitan dengan
kinerja karyawan;
g. Petugas
penilai kinerja harus mempunyai pendengaran yang baik atau orang yang
dapat menjadi pendengar yang baik. Di samping itu dia harus mempunyai
daya sensitif yang baik terhadap komunikasi non verbal (tidak dengan
kata-kata). Misalnya : dia harus mampu menangkap komunikasdi dari
perubahan air muka karyawan yang dinilai;
h. Cara
penilaian kinerja apapun yang digunakan oleh suatu organisasi, hal yang
penting adalah “formulir penilaian” harus ditandatangani kedua belah
pihak, yakni ditandatangani oleh penilai dan karyawan yang dinilai;
i. Bagi
karyawan yang dinilai dan tidak menyetujui hasil penilaian kinerjanya,
maka dia berhak untuk memberi berbagai catatan, dimana catatan atau
komentar-komentarnya harus dilampirkan dalam berkas penilaian kinerja
karyawan bersangkutan.
2. Faktor-faktor Penting dalam Pelatihan untuk Calon Penilai Kinerja
Mengingat
tidak mudahnya menjadi seorang penilai kinerja karyawan yang baik maka
perlu pelatihan yang memadai. Bahkan walaupunb telah disediakan penilai
kinerja yang baik, namun dapat terjadi saling ketidakmengertian antara
penilai kinerja karyawan dengan karyawan yang dinilai.
Dalam pelatihan untuk calon penilai karyawan hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Menekankan
bahwa penilaian kinerja karyawan bukanlah semata-mata mencarai
kesalahan dan kelemahan karyawan, tetapi mencoba mencari solusi
kelemahan karyawan;
b. Dilatih
cara menyelenggarakan wawancara yang paling efektif sehingga memperoleh
gambaran yang sebenarnya tentang kinerja seorang karyawan;
c. Dilatih tentang cara berkomunikasi yang jelas dan ramah terhadap karyawan yang akan dinilai kinerjanya;
d. Dilatih
menjadi pendengar yang baik dalam wawancara dengan karyawan yang akan
dinilai kinerjanya. Terutama mendengarkan informasi berupa keluhan
karyawan yang mempengaruhi kinerjanya;
e. Penjelasan
kepada calon penilai kinerja, bahwa penilaian kinerja bertujuan untuk
meningkatkan produktivitas karyawan, menciptakan suasana kerja yang
lebih baik dengan tanggung jawab yang lebih jelas terhadap masing-masing
karyawan.
3. Proses Pelaksanaan Penilaian Kinerja Karyawan
Setelah
para penilai kinerja karyawan dilatih secara seksama, maka tahap
berikutnya pihak pimpinan suatu organisasi melakukan penilaian kinerja
karyawan melalui proses seperti berikut :
a. Diumumkan
sebelumnya, bahwa penilaian kinerja karyawan akan dilakukan setiap 6
bulan yang berarti 2 kali dalam setahun. Adapun tanggal pelaksanaan
penilaian kinerja karyawan juga ditentukan, sehingga diharapkan
masing-masing karyawan harus mengisi formulir penilaian kinerjanya
sendiri-sendiri. Formulir isian tersebut sebagai bahan pada pertemuan
dengan penilai kinerja;
b. Formulir
penilaian kinerja karyawan tersebut harus dilengkapi catatan dari
supervisor/atasannya masing-masing karyawan. Hal ini merupakan penilaian
kinerja karyawan yang dilakukan atasannya;
c. Para
supervisor/atasan dapat memperoleh informasi dari bagian kepegawaian
tentang tanggal pelaksanaan penilaian kinerja karyawan;
d. Pelaksanaan
penilaian kinerja karyawan harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh,
hati-hati, obyektif dan jujur, tetapi dalam suasana yang akrab;
e. Formulir
penilaian sendiri kinerja karyawan dan catatan atasannya (penilaian
kinerja karyawan oleh atasannya) akan dijadikan pedoman diskusi antara
karyawan yang dinilai dengan petugas pelaksana penilai kinerja karyawan;
f. Berdasarkan
hasil penilaian kinerja karyawan tersebut, selanjutnya perlu diadakan
pelatihan jangka pendek yang bersifat khusus (6 bulan sampai 1 tahun);
g. Formulir penilaian kinerja karyawan harus ditandatangani baik oleh penilai kinerj maupun oleh karyawan bersangkutan;
h. Formulir
hasil penilaian kinerja karyawan tersebut harus diserahkan pada
atasannya, manajer, direktur atau presiden direktur di mana karyawan
tersebut bekerja. Dan akhirnya dokumen penilaian kinerja tersebut akan
didokumentasi dalam berkas kepegawaian karyawan bersangkutan di bagian
kepegawaian;
i. Tindak
lanjut dari penilaian kinerja karyawan dapat berupa pelatihan atau
pelatihan lanjutan agar kinerjanya meningkat. Atau mungkin juga mutasi
bila seorang karyawan dianggap lebih berpotensi dibidang yang lain.
C. Jenis-jenis Formulir untuk Menilai Kinerja Karyawan
1. Faktor-faktor yang Dinilai
Sebenarnya
jenis-jenis formulir untuk menilai kinerja karyawan tersebut berlaku
umum, baik bagi organisasi perusahaan, pemerintahan, yayasan maupun
organisasi lain.
Hal-hal apa saja
yang perlu diketahui sehubungan dengan penilaian kinerja karyawan ?.
Secara umum terdapat beberapa butir penilaian kinerja yakni meliputi
hal-hal sebagai berikut :
a. Pengetahuan seorang karyawan tentang pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya;
b. Apakah karyawan mampu membuat perencanaan dan jadwal pekerjaannya ?
c. Apakah seorang karyawan mengetahui standar mutu pekerjaan yang disyaratkan ?;
d. Tingkat
produktivitas karyawan. Hal ini berkaitan dengan kuantitas (jumlah)
hasil pekerjaan yang mampu diselesaikan oleh seorang karyawan;
e. Pengetahuan
teknis atas pekerjaan yang menjadi tugas seorang karyawan harus
dinilai, karena hal ini berkaitan dengan mutu pekerjaan yang menjadi
tanggung jawabnya;
f. Ketergantungan
kepada orang lain dari seorang karyawan perlu dinilai, karena
keterkaitan dengan kemandirian seseorang dalam melaksanakan pekerjaan.
Bila seorang karyawan dapat mandiri biasanya mempunyai inisiatif yang
tinggi;
g. Kemampuan berkomunikasi dari seorang karyawan, baik sesama karyawan maupun dengan atasannya dapat mempengaruhi kinerjanya;
h. Kemempuan bekerjasama dengan orang-orang lain sangat berperan dalam menentukan kinerjanya;
i. Kehadiran
dalam rapat disertai dengan kemampuan menyampaikan gagasan-gagasannya
kepada orang lain mempunyai nilai tersendiri dalam menilai kinerja
seorang karyawan;
j. Kemampuan
mengatur pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk membuat
jadwal kerja, umumnya mempengaruhi kinerja karyawan;
k. Kepemimpinan
menjadi faktor yang harus dinilai dalam menilai kinerja terutama bagi
karyawan yang berbakat “memimpin” sekaligus memobilitas dan memotivasi
temen-temennya untuk bekerja lebih baik;
l. Minat
memperbaiki kemampuan diri sendiri menjadi faktor lain untuk menilai
kinerja seorang karyawan. Upaya memperbaiki ketrampilan, misalnya
melalui kursus-kursus atau sekolah formal;
m. Apakah
ada faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang ?. Misalnya : seorang
karyawan yang bekerja di bagian akuntansi sebaiknya orang yang mempunyai
ijasah bon –A atau bon-B atau diploma akuntansi dan lain-lain;
n. Apakah
ada bidang kerja yang harus diubah sistemnya sehingga karyawan dapat
melaksanakannya denga cara lebih baik ?. Lalu bagaimana sistem kerja
yang baru harus diselenggarakan, sehingga karyawan dapat menjalankannya
secara lebih baik agar kinerjanya lebih meningkat;
o. Hal-hal lain, seperti berbagai catatan khusus dan umum tentang karyawan yang berkaitan dengan kinerjanya.
2. Contoh Formulir Penilaian Kinerja Karyawan
FORMULIR
PENILAIAN KINERJA KARYAWAN
Tanggal : ………………….
Nama : ………………… Tanggal mulai kerja : …………………..
Bagian : …………………. Jabatan : ………………….. Atasan : …………………..
Angka Penilaian : ………………….. ( ) 6 bulan ( ) 12 bulan ( ) lainnya …………..
NO
|
Keterangan
|
SB
|
B
|
C
|
S
|
K
|
KS
|
1.
|
Pengetahuan atas pekerjaan : Kejelasan pengetahuan atas tanggung jawab pekerjaan yang menjadi tugasnya
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Perencanaan dan Organisasi
Kemempuan membuat rencana pekerjaan meliputi jadwal dan urutan pekerjaan, sehingga tercaoai efisiensi dan efektifitas.
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Mutu Pekerjaan. Ketelitian dan ketepatan pekerjaan
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Produktivitas : Jumlah pekerjaan yang dihasilkan dibandingkan dengsan waktu yang digunakan.
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Pengetahuan teknis : Dasar teknis dan kepraktisan sehingga pekerjaan mendekati standar kinerja.
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Ketergantungan
kepada orang lain : Kemandirian dalam melaksanakan tugas dan
inisiatif, agar hasil pekerjaannya mendekati standar kinerja.
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Judment : Kebijakan naluriah dan kemempuan untuk menyimpulkan tugas sehingga tujuan organisasi tercapai.
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Komunikasi : Kemempuan berhubungan secara lesan (verbal) dengan orang lain.
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
Kerja sama : Kemempuan bekerjasama dengan orang lain dan sikap yang kontruktif dalam tim.
|
|
|
|
|
|
|
10.
|
Kehadiran dalam rapat : Kemempuan dan keikutsertaan (partisipasi) dalam rapat berupa pendapat dan ide
|
|
|
|
|
|
|
11.
|
Manajemen
Proyek : Kemempuan mengelola proyek, baik membina tim, membuat jadwal
kerja, anggaran dan menciptakan hubungan baik antar karyawan.
|
|
|
|
|
|
|
12.
|
Kepemimpinan : Kemampuan mengarahkan dan membimbing bawahan, sehingga tercipta efisiensi dan efektivitas.
|
|
|
|
|
|
|
13.
|
Kemempuan memperbaiki diri sendiri : Kemampuan memperbaiki diri sendiri dengan studi lanjut atau kursus-kursus.
|
|
|
|
|
|
|
14.
|
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan
|
|
|
|
|
|
|
NO
|
KETERANGAN
|
SB
|
B
|
C
|
S
|
K
|
KS
|
15.
|
Bidang apa saja yang menyangkut tugas karyawan yang memerlukanperbaikan
|
|
|
|
|
|
|
16.
|
a. Bagaimana perbaikan tersebut dapat dilaksanakan;
b. Apakah karyawan dapat melaksanakan ?;
c. Apa yang dapat dilakukan oleh seorang penyelia (dalam hal perbaikan) ?.
|
|
|
|
|
|
|
17.
|
Apakah tujuan dapat dicapai dalam 3 bulan atau 6 bulan atau 12 bulan.
|
|
|
|
|
|
|
18.
|
Catatan umum (bila ada).
|
|
|
|
|
|
|
19.
|
Catatan tantang pegawai (saran-saran).
|
|
|
|
|
|
|
0 comments:
Post a Comment